Video Porno Siswi SMP; Diancam atau Suka Sama Suka?
Total View: 21,988

ilustrasi: siswi-siswi main gila di kelas

ilustrasi: siswi-siswi main gila di kelas

Kasus video porno siswi SMP yang merebak mengundang kebingungan apakah si AE ini diancam atau dilakukan atas dasar suka sama suka?

Penyidik Polres Jakarta Pusat selesai memeriksa AE, pemeran perempuan kelas 9 dalam kasus rekaman video mesum di Sekolah Menengah Pertama (SMP) 4 Jakarta Pusat.

Dari hasil pemeriksaan tersebut, penyidik menemukan keganjilan dari keterangan AE jika dibandingkan dengan analisis terhadap video dan keterangan para saksi.

“Ada kejanggalan dari keterangan yang diberikan AE kepada penyidik mengenai kejadian yang sebenarnya terjadi dalam video itu,” terang Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Rikwanto, Senin (28/10/2013).
Menurut Rikwanto kejanggalan yang dimaksud penyidik, yakni keterangan dari AE yang tetap bersikukuh dirinya dipaksa melakukan adegan tersebut. Padahal fakta dari keterangan saksi dan analisa penyidik, para pelaku memerankan adegan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka dan tanpa paksaan.

“Nanti keterangan dari AE akan dikonfrontir ke pemeran pria FP. Agar diketahui apa yang sebenarnya terjadi,” ucap Rikwanto.

Seperti diberitakan sebelumnya, orang tua AE, siswi salah SMP 4 di Jakarta Pusat, melaporkan bahwa anaknya dipaksa melakukan oral seks dengan adik kelasnya FP sembari direkam oleh teman-temannya dengan ancaman senjata tajam, pada Jumat (13/10/2013) lalu.

Berdasarkan keterangan ortu AE, kronologi kejadian berawal ketika AE diajak temannya berinisial A untuk bertemu dengan teman lainnya berinisial CN, CD, DN, IV, dan WW, di salah satu ruang kelas, pada saat pelajaran sekolah usai.

Namun ketika korban masuk kelas, selain ada teman-temannya, ternyata ada juga adik kelas mereka berinisial FP. Kemudian A menyuruh AE melakukan oral seks kepada FP. Sementara, teman-teman lainnya menyaksikan. Bahkan ada yang merekam menggunakan video telepon seluler.

Saat melakukan itu, menurut Ortu AE, anaknya diancam menggunakan senjata tajam jenis pisau. Rikwanto menyampaikan, sejumlah siswa memang telah membuat rencana, bahwa setelah pelajaran sekolah rampung, mereka mencari kelas yang kosong dan melakukan perbuatan itu. Bahkan, kata Rikwanto, hal ini sudah dilakukan para siswa itu terhadap AE sebanyak 3 kali.

“Setelah sekolah bubar dan murid-murid lainnya pulang, mereka tetap tinggal di tempat dan mencari kelas yang kosong. Itu sudah dilakukan tiga kali dalam kurun waktu yang berbeda,” ungkap Rikwanto.
Terakhir, tambah Rikwanto, dilakukan pada 9 Oktober, dengan kelompok yang sama dan pemeran yang sama.

(Visited 4,594 times, 1 visits today)
 

0 Comments

You can be the first one to leave a comment.

Leave a Comment

 

You must be logged in to post a comment.